Jaga Kesehatan Mental Pelajar Usia SMP, Dosen Staimas Bagikan 5 Tips

BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – Pelajar SMP pada usia 13 sampai 15 tahun kondisi psikologisnya paling labil. Pikologi perkembangan meningkat pesat kelabilannya.

Pernyataan itu disampaikan dosen Pendidikan Agama Islam Staimas Wonogiri yang juga seorang psikolog, Dr Agustini, SSos, MM.

Agustini menuturkan, kenakalan anak usia SMP banyak macamnya seperti pacaran, merokok, dan berkelahi. Bahkan yang lebih parah adalah sampai berhubungan intim dan bisa berdampak berdampak pada bunuh diri.

“Faktor yang mendorong anak remaja bunuh diri itu bisa karena faktor dibully dan bisa juga karena tidak punya teman dekat akhirnya tidak bisa sharing. Jadi dipikir sendiri sementara pikirannya belum dewasa, cemas, depresi akhirnya ambil keputusan seperti itu,” katanya menyoroti realita di masyarakat adanya anak usia SMP yang bunuh diri.

Baca juga: BPN Wonogiri Cari Masukan, Dosen Prodi HTN Staimas Ingatkan Peningkatan Pelayanan Publik Tak Hanya Normatif

Menurutnya, pelajar SMP yang sampai hamil tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Apabila aborsi rawan dan jika dilanjutkan menikah belum dewasa.

“Kebimbangan belum siap menghadapi masalah psikologis, masalah keluarga, ekonomi, itulah yang bisa membuat seseorang depresi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kehamilan pada usia muda, khususnya yang tidak diinginkan dapat mempengaruhi kesehatan mental sebab secara mental memang belum siap. Stigma dan tekanan sosial terkait kehamilan di luar nikah dapat memperparah kondisi mental remaja tersebut.

“Kebanyakan masyarakat Indonesia sangat memegang agama, maka kalau punya anak sebelum menikah berarti zina, sedangkan zina itu dosa. Jadi dia mendapat stigma tidak baik, dikucilkan, dikatakan anak nakal dan sebagainya. Hal itu, menyebabkan mentalnya jadi depresi. Cemas, depresi dan belum dewasa atau masih labil itu jika mengambil keputusannya, kalau tidak dirangkul oleh keluarganya bisa bunuh diri,” jelasnya.

Menurutnya, paling banyak yang melakukan bunuh diri itu usia 13 -15 tahun, kalau SMA itu sudah berkurang, bertambahnya umur anak itu semakin dewasa, semakin berkurang tingkat bunuh dirinya. Untuk menjaga kesehatan mental anak usia SMP, berikut tipsnya.

Pertama, dekat dengan orangtua dan ajak sharing. Dia mengatakan, untuk kesahatan mental anak remaja itu memang harus dekat orang tua.

Disarankannya, perbanyak sharing dengan orang tua dan di sekolah guru bisa terbuka dengan anak remaja. “Jadi, perlu ada tempat bertanya. Bertanya pada orang yang lebih dewasa yang bijaksana, lebih bagus lagi yang paham ilmunya. Remaja itu harus di fasilitasi, kalau tidak, remaja itu cenderung menutup diri,” tambahnya.

Kedua, tingkatkan peran psikolog atau guru BK. Peran psikolog atau profesi kesehatan mental, jelasnya, sangat penting sekali. Sebaiknya mereka punya program sosialisasi ke sekolah-sekolah SMP terkait pendidikan seksual, belajar cara menyelesaikan masalah, sosialisasi tentang batasan pergaulan, paling tidak di sekolah itu oleh guru BK.

“Anak SMP itu baru kenal dunia nyata, jadi mereka masih mangalami kebingungan. Kalau orang tuanya tidak bisa diajak ngomong, dia cuma ngomong sama sesama umur, tambah kacau. Jadi, peran psikolog, bimbingan konseling harus aktif, punya program untuk anak remaja,” tegasnya.

Ketiga, batasi pergaulan. Dia mengemukakan, anak-anak perlu dibatasi pergaulannya demi kebaikan. “Untuk mencegah kenakalan remaja, mereka itu harus dibatasi pergaulannya. Tidak pergaulan bebas. Pergaulan bebas akan berujung kepada kehamilan dan,” ucapnya.

Keempat, belajar agama dan produktif. Agustini mendorong agar anak-anak belajar agama. Menurutnya, fondasi agama yang kuat dapat berkontribusi kepada pencegahan kenakalan remaja.

“Remaja yang sampai bunuh diri karena bekal agamanya sangat minim. Belajarlah agama atau mengaji, ikut kegiatan vokasi, untuk menyalurkan bakat-bakatnya jadi  tidak fokus di rumah main HP saja, masa muda itu yang produktif, nyoba apa saja, itu masanya,” terangnya.

Kelima, olahraga karena olahraga tak harus yang berat-berat. Dia menyarankan anak-anak remaja memiliki waktu untuk berolahraga yang juga penting untuk kesehatan mentalnya. 

“Orang yang jalan dalam sehari setengah jam jalan itu badannya sehat. Tidak hanya ke badannya, pengaruh ke kesehatan mentalnya itu jauh lebih besar, jadi fresh, lebih ikhlas, lebih semangat walaupun kelihatannya hanya jalan-jalan. Itu perlu di support orang tua atau orang di sekitarnya. Hal tersebut sangat mengurangi cemas dan depresi,” tambahnya. (Nadhiroh/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *