BeritaWonogiri.com [WONOGIRI] – Sebanyak 86 mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri resmi menerjunkan diri ke tengah masyarakat untuk melaksanakan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tahun 2026 di tujuh desa yang tersebar di wilayah Kabupaten Wonogiri. Penerjunan ini menjadi momentum penting bagi institusi untuk memperkuat kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah lewat inovasi program yang berdampak langsung bagi warga.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Wonogiri, Purwadi, memberangkatkan langsung seluruh peserta dari halaman Kampus STAIMAS Wonogiri pada Selasa, 7 Juli 2026. Prosesi pelepasan ini juga dihadiri oleh perwakilan Badan Kesbangpol, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), KPU, serta Bawaslu Kabupaten Wonogiri.
Adapun tujuh lokasi yang menjadi sasaran pengabdian meliputi Desa Pokoh Kidul (Kecamatan Wonogiri), Desa Sendangijo (Kecamatan Selogiri), dan Desa Slogoretno (Kecamatan Jatipurno). Selain itu, mahasiswa juga tersebar di Desa Kedawung dan Desa Pucung (Kecamatan Kismantoro), Desa Lebak (Kecamatan Pracimantoro), serta Desa Waru (Kecamatan Slogohimo).
Ketua STAIMAS Wonogiri, Atik Nurfatmawati, berpesan agar seluruh mahasiswa senantiasa menjaga nama baik almamater selama berbaur dengan masyarakat desa. Ia menekankan bahwa agenda KPM ini bukan sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban akademik semata. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi ruang belajar sekaligus wadah implementasi keilmuan yang diperoleh selama perkuliahan.
Atik meminta mahasiswa untuk selalu mengedepankan sikap santun, disiplin, serta bertanggung jawab penuh dalam menjalankan program kerja. Pengabdian yang dilakukan secara sungguh-sungguh diharapkan mampu meninggalkan manfaat jangka panjang bagi warga setempat.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri memberikan apresiasi tinggi atas komitmen berkelanjutan dari STAIMAS Wonogiri. Kepala Bapperida Wonogiri, Purwadi, menyatakan bahwa kehadiran para mahasiswa membawa energi baru bagi pemerintah daerah dalam memetakan serta mengatasi problematik riil di lapangan.
Menurut Purwadi, kompleksitas tantangan pembangunan daerah saat ini tidak mungkin dituntaskan sendiri oleh jajaran birokrasi pemerintahan. Oleh sebab itu, jalinan kemitraan strategis bersama akademisi menjadi kunci utama untuk melahirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Pihak pemkab berharap rancangan program yang dibawa oleh mahasiswa benar-benar membumi, adaptif terhadap kebutuhan lokal, serta mampu mendongkrak potensi desa. Melalui KPM 2026 ini, para mahasiswa diharapkan andal memosisikan diri sebagai agen perubahan yang membawa solusi konkret pada sektor sosial, ekonomi, pendidikan, keagamaan, hingga lingkungan. (Nadhiroh)








Komentar