BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Kinerja sektor pangan Jawa Tengah yang mendapat apresiasi Presiden Prabowo Subianto menjadi pemantik kuat bagi Pemprov Jateng untuk mempercepat langkah menuju swasembada pangan 2026. Target ambisius ini bukan sekadar angka, melainkan penegasan peran strategis Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Dalam 100 hari awal kepemimpinan nasional, kata kunci fokus: swasembada pangan Jawa Tengah 2026 langsung mengemuka sebagai prioritas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmen penuh untuk memperkuat produksi padi, jagung, dan komoditas pangan strategis lainnya demi menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, apresiasi Presiden Prabowo Subianto terhadap kinerja sektor pangan Jateng bukan sekadar pujian, tetapi menjadi energi baru untuk bekerja lebih cepat dan terukur.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Luthfi di hadapan Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat pembukaan Rakornas II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis malam, 29 Januari 2026.
“Kami menargetkan Jawa Tengah mampu mencapai swasembada pangan dan sekaligus memperkuat peran sebagai penyangga pangan nasional,” tegas Ahmad Luthfi.
Pada 2025, target produktivitas padi Jawa Tengah ditetapkan sebesar 11 juta ton. Realisasi produksi mencapai sekitar 9,5 juta ton. Angka ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk lompatan produksi pada 2026.
Pemprov Jateng bersama seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Tengah berkomitmen meningkatkan produksi hingga 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG).
Selain padi, peningkatan produktivitas jagung turut menjadi perhatian utama. Diversifikasi komoditas dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan petani.
Ahmad Luthfi menegaskan, swasembada pangan Jawa Tengah 2026 hanya bisa dicapai melalui kerja kolaboratif lintas sektor. Konsep collaborative government menjadi strategi utama dengan melibatkan:
-
Pemerintah kabupaten/kota
-
Tokoh masyarakat
-
Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan
“Kita gandeng semua pihak untuk bekerja bersama, termasuk organisasi kemasyarakatan yang kami jadikan mitra strategis,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Ahmad Luthfi secara khusus menitipkan pesan kepada Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah agar turut berperan aktif menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat.
Menurutnya, dakwah komunitas tidak hanya berfungsi dalam aspek keagamaan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi kebijakan publik dan kesejahteraan rakyat.
“Sampaikan ke masyarakat bahwa negara selalu hadir untuk menyejahterakan rakyat,” katanya.
Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan, kinerja sektor pangan Jawa Tengah telah ia laporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan kerap mendapat apresiasi.
Ia menyebut, swasembada pangan merupakan prioritas nasional yang mulai menunjukkan hasil nyata.
Pada 2025, produksi beras nasional tercatat surplus sekitar 4 juta ton, sehingga Indonesia tidak lagi melakukan impor beras. Kondisi ini berbanding terbalik dengan 2024 yang mencatat impor sekitar 4,2 juta ton.
“Kalau dikerjakan konsisten, swasembada pangan bisa dipertahankan hingga 2026,” ujar Zulkifli Hasan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan bahwa integrasi dakwah dan pembangunan sejalan dengan nilai dasar Muhammadiyah sejak era KH Ahmad Dahlan.
Menurutnya, dakwah Muhammadiyah selalu menyentuh persoalan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga penanggulangan bencana.
“Spirit dakwah inklusif itu yang terus kita lanjutkan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks,” kata Haedar.
Percepatan swasembada pangan Jawa Tengah 2026 kini bukan sekadar wacana. Dengan dukungan pusat, kolaborasi daerah, serta keterlibatan organisasi masyarakat, Jawa Tengah meneguhkan diri sebagai penyangga utama pangan nasional.
Apresiasi Presiden Prabowo menjadi pemantik, namun kerja nyata di lapanganlah yang akan menentukan sejarah. (*)







Komentar