BeritaWonogiri.com [BATUWARNO] – Produktivitas petani padi di Daerah Irigasi Balong, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, kini merosot tajam. Bukan hama atau bencana alam, tetapi kerusakan irigasi dan hilangnya semangat gotong royong menjadi penyebab utama. Dulu, di era 1980-an, petani bisa menanam padi tiga kali setahun. Kini, setelah program ketahanan pangan nasional digaungkan, masa tanam justru berkurang satu kali akibat musim yang tak menentu dan usia irigasi yang sudah uzur.
Daerah Irigasi Balong kini memprihatinkan. Awak media beritawonogiri.com menemukan fakta mencengangkan: sampah mengapung dari hulu ke hilir, sedimentasi menyebabkan pendangkalan, penyadapan air liar merajalela, pintu air rusak, hingga tanggul irigasi dimanfaatkan tanpa aturan. “Haruskah Irigasi Balong diruwat dan ganti nama?” candai sebagian warga, merujuk pada nama “Balong” yang seolah terus “bolong” meski ditambal.

Petani setempat pun angkat bicara. “Pak, nek kulo mung wong tani, supados saget mangan keluarga piye carane dicukup-cukupne,” keluh salah satu petani yang enggan diabadikan gambarnya. Ia menambahkan, “Yen masalah gotong royong resik-resik wangan, asal wonten prentah, kulo pitados petani mboten badhe wangkal.” Sayangnya, kerja bakti massal untuk membersihkan irigasi sudah lama tak dilakukan secara berkesinambungan.
Baca juga: Talud Setinggi 6 Meter Longsor, Rumah Warga Terancam, Anggota Polsek Batuwarno Turun Beraksi
Penelusuran lebih lanjut mengungkap lemahnya pengawasan, minimnya sosialisasi aturan, dan vakumnya organisasi seperti GP3A atau P3A.
“Lemahnya koordinasi dan kolaborasi lintas sektoral membuat organisasi mati suri sebelum mencapai tujuan,” tutur seorang pakar, menguatkan temuan di lapangan. Hilangnya semangat gotong royong, yang dulu menjadi roh pengelolaan irigasi, kini menjadi kran mampet yang membuat sistem ini layu dan terancam mati. (Agus Sutanto/BWC)







Komentar