BeritaWonogiri.com [BANJARNEGARA] – Bencana tanah longsor kembali terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Tebing tinggi di kawasan hutan pinus Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, runtuh setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur selama hampir tiga jam pada Minggu, 16 November 2025.
Longsor dengan diameter sekitar 100 x 100 meter meluncur deras dan menghantam permukiman warga di RT 1 hingga RT 4, RW 03. Material tanah, batu, dan kayu menimbun rumah warga hingga hancur.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat hingga Senin (17/11) pagi, 823 jiwa mengungsi di pos pengungsian halaman Kantor Kecamatan Pandanarum.
Dua warga meninggal dunia, dengan satu korban wafat di RSUD Banjarnegara dan satunya ditemukan meninggal di lokasi longsor pada pukul 07.48.
Puluhan warga masih diduga terjebak di hutan menurut laporan keluarga dan warga setempat. Proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan oleh tim SAR.
BPBD Jateng bersama relawan, TNI-Polri, dan Forkopimcam cepat mendirikan tenda pengungsian, dapur umum, pos lapangan dan layanan kesehatan darurat.
Berbagai kebutuhan mendesak mulai disalurkan, seperti logistik makanan, selimut, matras, higien kit, family kit, kids ware, air mineral, serta perangkat ATK, laptop dan printer untuk posko.
Penilaian lanjutan terhadap kondisi tebing yang masih labil terus dilakukan. Curah hujan yang masih berlangsung dapat memicu longsor susulan, sehingga status kewaspadaan tinggi di wilayah itu tetap diberlakukan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, penanganan bencana dilakukan terpadu sejak informasi diterima.
“Informasi awal berkembang 800-an masyarakat terdampak. Ada 26 yang masih (terjebak) di hutan karena kejadiannya mendadak. Ada juga yang mungkin tertimbun,” ujar Luthfi.
Ia menyebut pencarian diperkuat oleh Pangdam, Basarnas, dan BNPB.
“Hari ini kami bergerak (pencarian) by name by address. Kita bentuk klaster pengungsi, logistik, sarpras, dan kesehatan agar mobilisasi lebih cepat dan terarah,” ucapnya.
Gubernur menyatakan bantuan dari provinsi telah disiapkan dan dikirim.
“Untuk Banjarnegara, kami siapkan (lebih dari) Rp 700 juta. Sebelumnya hampir Rp 400 juta untuk wilayah Cilacap,” tuturnya.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan mengingat banyak wilayah rawan di Jawa Tengah, termasuk Banjarnegara.
“Jawa Tengah ini minimarket bencana. Ada daerah-daerah tertentu yang harus diantisipasi: Batang, Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, Brebes–Bumiayu, Magelang, Temanggung. Potensi gerakan tanah tinggi. Harus ada pencegahan dini,” pesan Gubernur.
Pemerintah Provinsi juga menggelar rapat terbatas guna memperkuat mitigasi bencana jangka menengah dan panjang.
Data bantuan yang telah diterima dari OPD dan BUMD Provinsi Jawa Tengah mencapai Rp 385,48 juta meliputi logistik dari Dinas Sosial, beras, obat-obatan, hingga dukungan dari BUMD Jateng Peduli Bencana dan Bank Jateng.
Selain itu, Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 450 juta dialokasikan untuk penanganan rumah yang terdampak ataupun musnah akibat longsor. (*)







Komentar