BeritaWonogiri.com [JAKARTA] – Seiring berita duka bencana melanda Sumatera pekan ini, ingatan ET Hadi Saputra, seorang mantan pilot sipil yang bertugas pada masa tanggap darurat bencana Aceh 2004, tersergap tajam. Bagaimana pengalamannya menerbangkan Hercules TNI AU yang uzur ke Banda Aceh, serta kolaborasi unik dengan maskapai sipil seperti Susi Air, menjadi cermin berharga untuk penanganan bencana hari ini? Ia membagikan refleksi mendalam tentang semangat “rule of need” yang mengalahkan birokrasi.
Hercules Tua: Potret Ketangguhan di Udara
Dalam bencana besar, aset yang tersedia sering tak sempurna, namun dedikasi yang mengisinyalah yang menentukan. Hadi menggambarkan pengalamannya berdesakan di lambung Hercules C-130 TNI AU yang sudah sepuh.
“Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras,” tulisnya melalui akun X @ethadisaputra diunggah 05/12/2025.
Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) menjadi terminal tersibuk di dunia, diisi oleh pesawat dari berbagai negara. ATC lokal bagaikan pesulap mengatur lalu lintas udara yang padat. Di tengah tekanan ini, logistik bencana berjalan dengan satu prinsip: mengantar bantuan secepat mungkin.
Pahlawan Tak Terduga dari Sektor Sipil
Ironi dan sekaligus kekuatan saat itu justru datang dari inisiatif di luar struktur formal. Maskapai komersial seperti Lion Air dan Batavia Air turun tangan dengan menyumbangkan free lift, melepas kursi pesawat untuk diisi karung beras.
“Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat,” kenang Hadi.
Namun, pahlawan sejati di lapangan, menurutnya, adalah Susi Air. Saat pesawat besar fokus ke Banda Aceh, wilayah seperti Meulaboh dan Simeulue menjadi titik buta. Dengan pesawat kecil Cessna Caravan, Susi dan pilot asingnya menerobos ke landasan yang rusak.
“Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi,” tegasnya.
Refleksi untuk Penanganan Bencana Kini
Menghadapi bencana di Sumatera kini, Hadi menyatakan kekhawatirannya. Meski infrastruktur dan teknologi lebih maju, ia khawatir semangat gotong royong yang gesit dan non-birokratis justru menipis.
“Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka,” tulisnya.
Refleksi ini adalah pengingat penting bahwa penanganan bencana membutuhkan fleksibilitas, keberanian mengambil risiko, dan koordinasi yang lincah antara unsur negara dan masyarakat. Aset terbaik bukan hanya peralatan canggih, tetapi mentalitas untuk bertindak tepat waktu dengan keikhlasan, warisan berharga dari pengalaman bencana Aceh 2004 yang tidak boleh terlupakan.(*)







Komentar