Dongkrak PAD Lewat Sektor UMKM, Ahmad Luthfi Minta Bank Jateng Agresif Salurkan Kredit Produktif

Optimalkan KUR Bunga Rendah 6 Persen

BeritaWonogiri.com [KARANGANYAR] – Jutaan pelaku usaha mikro di Provinsi Jawa Tengah kini berpeluang besar memperoleh akses pembiayaan UMKM yang jauh lebih luas dan kompetitif. Langkah strategis ini digulirkan guna mempercepat pertumbuhan usaha rakyat sekaligus mendorong stimulasi aktivitas ekonomi yang merata hingga ke tingkat desa.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta Bank Jateng untuk segera memperluas jangkauan permodalan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebijakan tersebut dinilai krusial mengingat sektor ini merupakan fondasi utama perekonomian daerah yang memiliki basis massa sangat besar.

Berdasarkan data terkini, jumlah pelaku usaha mikro di Jawa Tengah telah mencapai sekitar 4,9 juta unit yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi menilai kemudahan mendapatkan suntikan modal menjadi kunci utama agar jutaan usaha mikro tersebut dapat berkembang dan naik kelas.

“Bank Jateng adalah salah satu kontributor untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan ekonomi Provinsi Jawa Tengah. Mereka punya akses permodalan sampai tingkat kabupaten, bahkan desa,” ujar Ahmad Luthfi usai menghadiri Rapat Strategi dan Kebijakan Semester II Tahun 2026 Bank Jateng di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jumat (19/6/2026).

Ahmad Luthfi menegaskan bahwa peran Bank Jateng tidak hanya sekadar lembaga keuangan, melainkan motor penggerak ekonomi daerah. Oleh sebab itu, manajemen bank milik daerah ini didorong untuk tampil lebih agresif dalam menyalurkan pembiayaan produktif kepada para pelaku usaha mikro di pelosok daerah.

Menurut Gubernur, instrumen yang paling efektif untuk menggerakkan sektor ini adalah program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema bunga yang rendah. Rendahnya beban bunga akan meringankan beban operasional pelaku usaha mikro yang baru berkembang.

“Kenapa saya tekankan ekonomi mikro? Karena di Jawa Tengah jumlahnya besar dan berada di kabupaten/kota. Maka akses permodalan harus kita permudah, termasuk dengan bunga KUR rendah, sekitar 6 persen,” kata Ahmad Luthfi secara komunikatif.

Melalui kemudahan modal ini, pemerintah daerah berharap muncul efek domino positif. Usaha mikro diharapkan bertransformasi menjadi usaha kecil, kemudian berlanjut naik kelas menjadi usaha menengah, sehingga struktur ekonomi daerah semakin kokoh.

Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko, menyatakan bahwa manajemen telah menyiapkan serangkaian strategi baru guna menghadapi tantangan pada Semester II Tahun 2026. Dinamika geopolitik, kondisi fiskal, serta ketatnya persaingan industri perbankan menuntut adanya adaptasi kebijakan yang cepat.

Bank Jateng kini menetapkan empat fokus kebijakan utama, yaitu penguatan permodalan dan tata kelola perusahaan, percepatan transformasi digital, peningkatan kompetensi SDM, serta peningkatan skala bisnis. Seluruh langkah ini diarahkan untuk menekan angka kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sekaligus meningkatkan pendapatan berbasis layanan (fee-based income).

Kondisi keuangan Bank Jateng sendiri terpantau sangat sehat untuk melakukan ekspansi. Hingga Maret 2026, bank daerah ini mencatatkan total aset sebesar Rp 93,97 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp 75,80 triliun, serta penyaluran kredit mencapai Rp 63,66 triliun dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 22 persen.

Peluang pertumbuhan ini didukung oleh performa ekonomi Jawa Tengah yang tetap tangguh. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen, diiringi penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,24 persen. (*)

Komentar