Tolak Stigmatisasi ‘Landa Ireng’, Ratusan Wartawan Soloraya Aksi di Monumen Pers Solo

Gabungan Organisasi Profesi dan Pers Mahasiswa

BeritaWonogiri.com [SURAKARTA] – Seratusan wartawan Soloraya aksi bersama elemen pers mahasiswa di kawasan Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah, pada Selasa, 28 Juli 2026. Aksi unjuk rasa tersebut digelar sebagai bentuk penolakan keras dan kecaman terhadap penggunaan istilah “Landa Ireng” yang dinilai merendahkan profesi jurnalistik sekaligus mengancam kemerdekaan pers.

Dalam aksi yang diwarnai unjuk rasa damai dan teaterikal tersebut, massa mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk meminta maaf secara terbuka. Sikap ini dipicu oleh ucapan Presiden yang menggunakan sebutan “Landa Ireng” saat menyampaikan pidato pada peringatan Hari Lahir ke-28 PKB pada 23 Juli 2026 lalu.

Ketua PWI Surakarta, Sri Hartanto, menegaskan bahwa penggunaan istilah “Landa Ireng” berpotensi memicu stigma negatif terhadap insan pers yang bekerja menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah masyarakat.

“Kami wartawan se-Soloraya melawan keras lontaran Presiden Prabowo terkait sebutan ‘Landa Ireng’ kepada profesi wartawan. Wartawan bekerja berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Karena itu, kami mendesak Presiden Prabowo harus meminta maaf,” tegas Sri Hartanto dalam orasinya.

Ia menambahkan, kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan mekanisme kontrol sosial yang sah dalam kehidupan demokrasi dan sama sekali bukan bentuk pengkhianatan terhadap negara.

Aksi di tempat lahirnya PWI ini diikuti oleh lintas organisasi pers, di antaranya PWI Surakarta, Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Solo, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Solo, serta berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Soloraya seperti LPM Pabelan, LPM Apresiasi, LPM Kentingan, LPM Justissica, dan LPM Islamika Media Group.

Ketua AJI Solo, Ika Yuniati, menyoroti tingginya ancaman terhadap kebebasan pers, dengan mengutip data AJI Indonesia yang mencatat 89 kasus kekerasan terhadap wartawan sepanjang tahun 2025. Sementara itu, Ketua PFI Solo, Yoma Times Suryadi, menekankan pentingnya ruang bebas dan aman bagi jurnalis foto maupun teks dalam menyampaikan fakta akurat kepada publik.

Sebagai pesan simbolis terhadap bahaya pembungkaman pers, peserta menutup mulut menggunakan lakban hitam. Massa aksi juga berjalan mundur mengitari bundaran Monumen Pers Nasional dengan dikawal ketat aparat kepolisian.

Aksi ini sengaja dipusatkan di Monumen Pers Nasional untuk mengingatkan sejarah panjang perjuangan tokoh pers bangsa, seperti R.M. Tirto Adhi Soerjo dan S.K. Trimurti, yang konsisten menyuarakan kebenaran demi kemerdekaan rakyat. (Iskandar)

Komentar