Viral, Perpisahan Siswa SMA di Banjarmasin Dilaksanakan di Kelab Malam Hexagon

Bupati Banjar Ingatkan Sekolah Tidak Mengulang Lagi

BeritaWonogiri.com (BANJAR) – Gaya hidup anak-anak pelajar jaman ‘Now’ kadang tak lagi memikirkan jerih payah orangtua. Bukan fokus belajar, tapi ada faktor lain yang dikejar. Mungkin sensasi, jati diri, atau sekedar mencari kesenangan.

Ironisnya, kondisi itu kadang mendapat dukungan bukan saja dari para pendidik yang mengasuhnya. Bahkan seperti kasus di Jawa Barat yang diungkap Gubernur Dedi Mulyadi, ada orangtua miskin tapi sombong yang justru mendukung putra-putrinya mengadakan perpisahan mewah di sekolahan.

Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan lebih parah lagi. Acara perpisahan siswa SMAN 1 Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, digelar di tempat hiburan malam (THM) Hexagon, di Kota Banjarmasin.

Video kegiatan perpisahan itu beredar luas di media sosial. Akibatnya bisa ditebak, caci maki dan bullyan netizen-pun tak bisa dihentikan sehingga video tersebut viral di media sosial.

Dikutip dari tayangan video yang diunggah akun instagram @ aliansimahasiswapenggugat, Kamis 15 Mei 2025 memperlihatkan aktivitas ‘dugem’ para siswa di balik gemerlapnya lampu layaknya sebuah diskotik.

“Hexagon memang bagus, mantab, luar biasa, dan alhamdulillah semua berjalan lancar, menunya juga luar biasa, pokoknya hexagon is the best” kata sosok perempuan dalam video seperti mewakili pihak sekolahan.

Dari ungkapannya di video, perempuan tersebut terlihat bangga dan kagum dengan pelaksanaan kegiatan perpisahan di Hexagon. Padahal bisa dibayangkan, berapa juta rupiah yang harus dikeluarkan orangtua siswa untuk menggelar acara semacam itu.

Kejadian itu memicu kekecewaan Bupati Banjar, H Saidi Mansyur. Dikutip Kantor Berita Kalimantan, Saidi mengaku menyayangkan pemilihan lokasi kegiatan perpisahan yang dinilainya tidak mencerminkan nilai budaya lokal.

“Kami sangat menyayangkan kegiatan perpisahan siswa di THM, meskipun digelar siang hari. Ini tidak sesuai dengan kultur dan nilai-nilai yang dijunjung di Kabupaten Banjar,” tegas Saidi, Rabu, 14 Mei 2025.

Ia menekankan pentingnya pengawasan yang lebih ketat dari pihak sekolah, dan tidak ingin kegiatan serupa terulang lagi.

Meskipun kewenangan SMA berada di bawah provinsi, Saidi tetap menyerukan agar para kepala sekolah se-Kabupaten Banjar melakukan evaluasi serius terhadap tempat dan konsep pelaksanaan kegiatan siswa. (Irfandy*)

Komentar