Peringati Hari Anak Nasional, Kemenko PM dan IPSMI Gelar Workshop Membaca Nyaring untuk Literasi Desa

Menjawab Tantangan Rendahnya Minat Baca Nasional

BeritaWonogiri.com [JAKARTA] – Memperingati momentum strategis Hari Anak Nasional 2026, Ikatan Penggerak Swadaya Masyarakat Indonesia (IPSMI) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menggelar Workshop Membaca Nyaring (Read Aloud) tingkat nasional pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Gerakan literasi secara daring ini menguatkan kapasitas akademik dan kualitas kognitif anak usia dini di pedesaan. Langkah konkret tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-4 pemerintah dalam menyiapkan SDM unggul.

Program kolaboratif ini mereplikasi model pemberdayaan ekosistem literasi desa yang diawali di Desa Pasir Buncir, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat yang didukung PT Pupuk Sriwijaya ini menghadirkan read alouder sekaligus pengarang buku anak, Dina Novita.

“Pada masa emas, perkembangan kognitif anak perlu dibangun dengan daya kritis, tidak hanya sekedar mampu membaca dan menulis,” ujar Dina Novita dalam pemaparannya.

Pelatihan ini diikuti lebih dari 350 peserta lintas profesi dari 25 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua. Para peserta terdiri dari tenaga pendidik PAUD/TK, pegiat literasi, Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM), Pendamping Desa, hingga mahasiswa.

Ketua HIMPAUDI Kabupaten Wonogiri, Suhartini, S.Pd., memanfaatkan agenda ini untuk meningkatkan kapasitas pengajar PAUD dengan mengirimkan lebih dari 100 perwakilan. Bekal membaca nyaring ini akan diterapkan langsung di komunitas belajar, perpustakaan desa, serta sekolah kawasan pedesaan.

Perwakilan Pengurus Pusat IPSMI, Widyanto Ramadhan, menyampaikan bahwa sinergitas Pendamping Desa dan PSM menjadi kunci utama. “Pemberdayaan masyarakat merupakan tugas bersama, dan kolaborasi di lapangan menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa dan kawasan perdesaan,” tegas Widyanto.
Menjawab Tantangan Rendahnya Minat Baca Nasional

Gerakan massif ini merespons data UNESCO yang mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Angka tersebut menunjukkan hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca aktif.

Selain itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga masih berada di level rendah, dengan rata-rata kabupaten/kota sebesar 10,37 dan tingkat provinsi 29,36. Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional bertahan pada angka 54,8.

Asisten Deputi Pengembangan Desa dan Kawasan Pedesaan Kemenko PM, Diah Kusuma Pitasari, S.P., MM., menegaskan pentingnya intervensi pemberdayaan untuk membenahi persoalan tersebut.

“Esensi pemberdayaan masyarakat adalah menanamkan harapan bagi lahirnya generasi, khususnya anak-anak di desa dan kawasan perdesaan, yang lebih cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan,” tutur Diah.
Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas 2045

Penggerak Swadaya Masyarakat, Kartika Puspitasari, menambahkan bahwa penjangkauan literasi hingga kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi indikator keberhasilan pemerintah. Menurutnya, masyarakat yang sadar literasi adalah aset berharga dalam mewujudkan agenda pembangunan nasional.

Replikasi model literasi ke tingkat nasional ini ditegaskan bukan sekadar program taktis jangka pendek. Gerakan ini merupakan investasi terstruktur untuk menjamin hak dasar anak dalam memperoleh pendidikan terbaik, guna mencetak generasi pemimpin berkualitas menjelang Indonesia Emas 2045.

Komentar