BeritaWonogiri.com [SEMARANG] – Provinsi Jawa Tengah mencetak sejarah baru di dunia pendidikan nasional dengan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem kurikulum koperasi sekolah secara sistematis dan berkelanjutan. Langkah progresif ini terealisasi melalui peluncuran program Insersi Pendidikan Perkoperasian pada Jumat, 5 Juni 2026. Program inovatif ini menyasar sekitar 6,38 juta siswa mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga SLB di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Gedung Gradhika Bhakti Praja di Kota Semarang menjadi saksi peluncuran agenda besar ini. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin yang mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa program ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah untuk mengenalkan kembali nilai-nilai serta praktik koperasi kepada generasi muda sejak usia sekolah. Menurutnya, koperasi merupakan amanat konstitusi yang tertuang dalam Pasal 33 UUD 1945 sekaligus pilar penting perekonomian nasional yang selaras dengan kebijakan Koperasi Merah Putih.
“Program ini tidak mengubah dan tidak menambah mata pelajaran di sekolah. Materi koperasi disisipkan atau diinsersikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada,” ujar Ahmad Luthfi.
Ia menambahkan, Jawa Tengah telah bergerak cepat menyiapkan modul pembelajaran khusus. Pihaknya juga sudah merampungkan pembekalan teknis kepada para kepala sekolah, pengawas, dan guru di lapangan agar implementasi program berjalan mulus.
Dalam penerapannya, materi perkoperasian ini menyesuaikan karakteristik dan jenjang pendidikan siswa. Pada tingkat SD/MI, para guru menanamkan nilai dasar koperasi dan semangat gotong royong. Memasuki jenjang SMP/MTs, cakupan pembelajaran meluas pada aspek organisasi, pengelolaan, serta manfaat nyata koperasi.
Sementara itu, pada tingkat SMA/SMK/MA, siswa mulai mempraktikkan langsung ilmu koperasi dan kewirausahaan. Untuk siswa di SLB, metode pengajaran disesuaikan dengan karakteristik unik para peserta didik demi memastikan prinsip inklusivitas.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap terobosan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ini. Ferry menilai kurikulum koperasi sekolah mampu menghidupkan kembali pemahaman Gen Z dan generasi Alpha mengenai ekonomi Pancasila.
“Koperasi bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, hingga generasi Alpha yang saat ini masih berada di bangku sekolah,” kata Ferry. Ia juga berharap provinsi lain segera meniru langkah konkret Jawa Tengah ini.
Dukungan serupa mengalir dari Kementerian Agama. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kesiapan seluruh lembaga pendidikan di bawah kementeriannya untuk menyukseskan program ini. Menurutnya, nilai koperasi sangat sejalan dengan prinsip keagamaan yang mengedepankan tolong-menolong dan kemandirian umat. Kemenag juga melirik potensi pengembangan koperasi di lingkungan pondok pesantren dan rumah ibadah.
Di sisi lain, Toni Toharudin menilai metode insersi ini sangat efektif karena membentuk karakter mulia seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepemimpinan tanpa membebani siswa dengan kurikulum baru. Melalui program ini, Jawa Tengah optimistis melahirkan generasi unggul yang mandiri secara ekonomi dan berjiwa gotong royong. (*)







Komentar