Beritawonogiri.com [KUDUS] – Waktu istirahat siang di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Jalan Pattimura, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kini dipenuhi suara langkah dan denting panci yang menandai kesibukan rutin dapur MBG (Makan Bergizi Gratis). Di balik program yang mengaliri 3.700 porsi makanan sehat ke 15 sekolah dan posyandu, kisah pekerja seperti Tri Sugianto (58) membuktikan dampak MBG bukan sekadar asupan gizi untuk generasi muda, tetapi juga angkat derajat ekonomi keluarga.
Tri, yang dulu berdagang angkringan di GOR, kini menjadi pengawas dapur MBG. Sejak bergabung April lalu hingga kini, pendapatan tambahannya mampu membayar biaya kuliah anak, perbaikan rumah, hingga menabung untuk keperluan mendesak. “Rasanya ringan, Mas. Yang paling saya suka suasananya, kompak dan penuh kekeluargaan,” papar Tri. Pengalaman ekonomi keluarga Tri pun berubah, istrinya turut bekerja dan anaknya kini sukses meraih pekerjaan di rumah sakit.

Tak hanya Tri, puluhan warga sekitar Karangpakis dan Jepangpakis kini bekerja rutin di dapur MBG. Sebagian direkrut dari mantan pramusaji atau relawan, sebagian lain warga desa yang butuh pemasukan tambahan. “Kami semua seperti keluarga di sini,” imbuh Tri, menyoroti kontribusi nyata MBG terhadap lapangan kerja lokal Kudus.
Dampak Sosial MBG: Cerita Nurwati Sang Karyawan Packing
Bagi Nurwati (52), karyawan packing dapur MBG, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas. Setelah ditinggal sang suami, ia menjadi tulang punggung anak. “Mulai jam 04.00, pulang jam 12.00. Tetap ada waktu buat keluarga,” tuturnya bahagia bisa bantu biaya sekolah anak. Suasana hangat dan kerja tim yang kompak dirasakan semua; saling bantu jika rekan berhalangan, dibarengi disiplin dalam menjaga higienitas makanan dari penggunaan sarung tangan hingga aturan kesehatan pribadi dengan masker dan kuku pendek.
Program MBG Kudus: Sinergi Masyarakat dan Pemerintah
Kepala SPPG Jati Kudus, Maulidhina Mahardika, menegaskan seluruh 47 staf dapur berasal dari warga sekitar dan bekerja bergiliran dengan sistem manajemen modern. “Pendistribusian mulai pukul 07.00 (TK/SD), 10.00 (SMP), dan 11.00 (SMA). Semua sesuai SOP Badan Gizi Nasional,” paparnya, memastikan setiap tahapan dari bahan baku hingga distribusi berjalan optimal dan higienis.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yunita Dyah Suminar, juga mendorong penguatan administrasi melalui penerbitan SLHS dan koordinasi lintas dinas serta Badan Gizi Nasional. “Mitra SPPG dan ahli gizi di setiap dapur berperan sebagai quality control: mulai pemilihan supplier, screening bahan, proses masak, hingga distribusi,” jelasnya.
Standar Operasional: Kualitas dan Higienitas Tanpa Kompromi
Setiap karyawan wajib jalur masuk khusus, berganti pakaian, penutup kepala, sarung tangan, dan masker sebelum mulai produksi. Semua bahan baku berasal dari supplier terpercaya, disortir, disimpan pada suhu ideal, dan dimasak sempurna. “Distribusi maksimal dua jam setelah masak,” ujar Maulidhina, menekankan pencegahan kontaminasi demi keamanan anak-anak sekolah dan ibu hamil-menyusui penerima manfaat.
Menu MBG Kudus: Anak Sekolah Ikut Berkontribusi
Menariknya, anak-anak penerima MBG juga aktif memberikan masukan menu harian. Setiap permintaan, mulai burger, mie ayam, hingga snack spesial akan dimodifikasi agar tetap sehat dan bergizi seimbang. “Isi burger diganti telur ceplok atau ayam katsu dan sayur segar agar nutrisinya terpenuhi,” terang Maulidhina, menyoroti peran ahli gizi dalam mengolah menu dari permintaan siswa.
Manfaat Ekonomi & Sosial MBG Kudus
Program MBG terbukti bukan hanya meringankan beban makan harian siswa, melainkan juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup ibu rumah tangga, hingga memperkuat jaringan sosial warga lokal. Penghasilan tambahan dan suasana solid dapur MBG dinikmati mereka yang sebelumnya sulit memperoleh pekerjaan. Cerita Tri dan Nurwati menjadi contoh nyata, bahwa MBG adalah program bergizi sekaligus program ekonomi yang merangkul banyak orang.
Harapan dan Tren MBG Kudus untuk Masa Depan
Untuk masa depan, seluruh karyawan, sekolah, serta Dinkes Provinsi berharap MBG berlangsung panjang, menu terus inovatif, dan jangkauan semakin luas. MBG Kudus tak hanya jadi percontohan gizi sekolah, tapi juga tren pemberdayaan masyarakat lokal di Jateng.(*)






