‘Turuk Bintul’, Penganan Jadul Khas Jawa Tengah yang Kian ‘Punah’ di Wonogiri

BeritaWonogiri.com (WONOGIRI) – Nama makanan jadul ini agak jorok (Jawa : Saru), yakni “Turuk Bintul. Bagi masyarakat Wonogiri, jajanan ini pasti tak asing lagi.

Banyak daerah yang mengklaim Turuk Bintul adalah makanan khas dari wilayah mereka seperti Kabupaten Pati, Grobogan dan juga Wonogiri.

Artinya, penganan berbahan beras ketan ini mungkin sudah ada sejak dulu di daerah mereka. Jadi anggap saja ini sebagai makanan khas Jawa Tengah. Dalam khazanah kuliner Nusantara, Turuk Bintul ini konon sudah ada sejak jaman Majapahit  Abad 10 dan mungkin menjadi makanan favorit kala itu.

Risih memang untuk menyebutnya. Karena kata “turuk” dalam bahasa Jawa (pasaran) merupakan sebutan “organ kelamin perempuan”. Sedang “bintul” berarti bentol atau bengkak kecil, merujuk pada kulit yang bentol akibat digigit semut atau nyamuk.

Tapi apa hendak dikata, nama itu sudah ada sejak dulu kala dan secara turun menurun telah melekat di hati masyarakat. Sayangnya penganan ini mulai sulit kita jumpai di kota. Hanya di pasar-pasar tradisional terkadang kita masih menjumpai segelintir penjualnya.

Turuk Bintul sendiri adalah penganan berbahan baku utama beras ketan dan kacang tolo, serta parutan kelapa dan garam. Cara bikinnya, beras ketan dimasak, setelah air menyusut, angkat, lalu campurkan kelapa parut dengan nasi ketan, dan kukus sampai matang.

Selanjutnya, ketan tadi dibentuk bulat dan ditaburi kacang tolo kukus seperlunya. Kacang tolo inilah yang mungkin mencuatkan kesan seolah-olah terdapat ‘bintul’ atau bengkak-bengkak kecil, sehingga makanan ini dinamai Turuk Bintul.

Penyajian penganan ini berbeda antara daerah satu dan lainnya. Di Kabupaten Wonogiri, keterangan di atas sudah cukup untuk disajikan.

Tetapi di Kabupaten Grobogan, sebelum dicampur kacang tolo, ketan ditumbuk dulu baru ditaburi kacang tolo, kemudian dibungkus daun pisang menyerupai lontong.

Turuk bintul bercita rasa gurih, sangat nikmat disantap sembari menyeruput kopi atau teh hangat. Sebagai kuliner pusaka (heritage culinary), turuk bintul jadul ini bisa dijumpai di daerah lain di lingkup Jawa Tengah. Turuk bintul sangat terkenal di Jepara dan masih banyak dijumpai penjual-penjualnya. Bahkan turuk bintul populer juga sebagai kudapan khas Jepara.

Terlepas dari namanya yang jorok, “ngeres”, dan “saru”, turuk bintul adalah kuliner warisan leluhur yang memperkaya khazanah gastronomi tradisional Nusantara, yang layak diuri-uri atau dilestarikan. (Irfandy*)

Komentar