Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri Jadi Contoh Penguatan Distribusi Pangan di Daerah

Dukungan Gudang dan Modal Pembelian

BeritaWonogiri.com [GIRIMARTO] – Penguatan kelembagaan petani kembali menjadi perhatian serius. Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri di Desa Doho menerima kunjungan dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo, Dinas Ketahanan Pangan, serta perwakilan dinas tingkat provinsi pada Jumat (20/2/2026). Kunjungan ini bertujuan melakukan survei awal dan evaluasi pemanfaatan sarana pendukung distribusi pangan yang telah diterima kelompok tani tersebut.

Ketua Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri, Wagiyanto, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan pemerintah dan Bank Indonesia. Ia menjelaskan, kelompok tani ini berdiri pada 2008 dan bergabung dengan program Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui skema Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) pada 2009.

Program LDPM dirancang untuk memperkuat kelembagaan petani sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas seperti gabah, beras, dan jagung.

Wagiyanto menuturkan, pada 2010 Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri menerima bantuan pembangunan gudang serta modal pembelian hasil panen. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan bertahap kepada lima Gapoktan di Kabupaten Wonogiri sepanjang 2009–2014.

“Melalui LDPM, kami bisa menyimpan gabah, mengelola cadangan pangan, dan tidak selalu menjual saat harga rendah,” ujarnya.

Penguatan berlanjut pada 2016 dengan pembangunan Rice Milling Unit (RMU). Gedung dibangun oleh PT Jatayu, sedangkan mesin penggilingan dipasok Agrindo. Kehadiran RMU memungkinkan Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri mengolah gabah kering panen (GKP) menjadi beras kemasan secara mandiri.

Langkah ini dinilai strategis karena petani tidak lagi menjual gabah mentah ke tengkulak, melainkan menjual beras bernilai tambah lebih tinggi.

Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Ridwan Jauhari, menekankan pentingnya pemanfaatan investasi secara optimal.

Ridwan mengingatkan bahwa bantuan pemerintah harus memberikan dampak ekonomi nyata. “Perlu dihitung dengan benar apakah investasi ini benar-benar bisa dimanfaatkan. Jangan sampai tidak terawat,” tegasnya.

Menurutnya, kemandirian menjadi kunci agar Gapoktan mampu menghasilkan pendapatan sekaligus membiayai operasional dan perawatan sarana secara mandiri.

Bank Indonesia dalam kunjungan tersebut juga menegaskan perannya dalam menjaga stabilitas inflasi melalui penguatan distribusi pangan di tingkat petani. Dengan kelembagaan yang kuat, diharapkan pasokan lebih stabil dan harga lebih terkendali.

Diskusi turut menyoroti karakteristik petani di Wonogiri yang umumnya menjual hasil panen segera setelah panen atau menyimpannya satu musim sebelum dilepas ke pasar. Pola ini menjadi pertimbangan dalam strategi distribusi dan pengelolaan cadangan pangan.

Ke depan, Gapoktan Ngudi Rukun Wonogiri diarahkan meningkatkan kualitas produksi dari beras medium menuju beras premium. Segmen pasar yang dibidik mencakup restoran dan pasar bisnis ke bisnis (B2B).

Transformasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas akses pasar, serta menaikkan pendapatan petani secara berkelanjutan.

Kunjungan ini menjadi bagian dari sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan kelompok tani. Upaya tersebut menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Wonogiri. (Fery)

Komentar