Mahasiswa IPB Dampingi 7 UMKM Ngabeyan Masuk Ekosistem Pemasaran Digital

Kesiapan UMKM Jadi Tantangan

BeritaWonogiri.com [SIDOHARJO] – Mahasiswa IPB University melalui program KKN-Tematik Inovasi mendorong Digitalisasi UMKM Ngabeyan melalui dua program kerja, yakni “Jejak Kuliner” dan “Jejak Ngabeyan”. Kegiatan di Desa Ngabeyan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, tersebut sekaligus memetakan fasilitas umum dan UMKM sebagai bahan penyusunan leaflet profil desa.

Program “Jejak Ngabeyan” berfokus pada pemetaan spasial berbagai fasilitas umum dan unit usaha di wilayah desa. Data tersebut menjadi dasar untuk menyusun profil Desa Ngabeyan yang lebih terstruktur.

Suasana pendampingan langsung pembuatan konten pemasaran digital untuk UMKM kuliner di Wonogiri. (Foto: Dok.)

Sejumlah fasilitas yang berhasil dipetakan meliputi pos kamling, posyandu, sekolah, tempat ibadah, pemakaman umum, batas dusun, balai desa, lumbung pangan, Koperasi Merah Putih hingga lapangan voli.

Dari sektor usaha, mahasiswa memetakan sekaligus mendampingi tujuh UMKM melalui program “Jejak Kuliner”.

Tujuh usaha tersebut terdiri dari lima usaha tahu, satu usaha oleh-oleh keripik tempe, dan satu usaha susu kambing etawa.

Tim KKN menyesuaikan bentuk pendampingan dengan kondisi dan kesiapan masing-masing pelaku usaha.

Empat dari lima usaha tahu mendapatkan pendampingan berupa penitikan lokasi usaha di Google Maps. Pilihan tersebut mempertimbangkan kondisi produk yang belum siap dipasarkan secara digital, keterbatasan sumber daya manusia, serta kapasitas produksi.

Kehadiran lokasi usaha di Google Maps menjadi langkah awal agar keberadaan UMKM lebih mudah ditemukan konsumen secara daring.

Berbeda dengan empat usaha tahu tersebut, satu usaha tahu yang dinilai sudah lebih berkembang memperoleh pendampingan hingga tahap pelatihan desain dasar Canva.

Pendampingan secara menyeluruh juga diberikan kepada pelaku usaha keripik tempe dan susu kambing etawa.

Materi pelatihan mencakup teknik mengambil foto produk, pengambilan video, penggunaan template CapCut, pembuatan konten dan copywriting, hingga desain dasar Canva.

Keterampilan tersebut diarahkan agar pelaku UMKM mampu membuat materi promosi sederhana yang dapat digunakan kembali secara mandiri.

Para pemilik UMKM menyambut baik rangkaian pendampingan. Mereka mengaku memperoleh pengetahuan baru dan merasa lebih yakin untuk mulai mengembangkan pemasaran digital usahanya.

Di sisi lain, tim KKN menemukan sejumlah kendala dalam proses pendampingan. Beberapa pelaku usaha belum siap menerima pesanan dalam jumlah besar apabila promosi digital meningkatkan permintaan.

Keterbatasan sumber daya manusia yang secara khusus menangani pemasaran digital juga menjadi tantangan. Pelaku usaha juga harus membagi waktu antara produksi dan kegiatan promosi.

“Pendampingan yang kami berikan memang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing UMKM, karena tidak semua usaha berada pada titik yang sama untuk langsung terjun ke pemasaran digital secara penuh,” ujar penanggung jawab program kerja.

Pendekatan tersebut membuat Digitalisasi UMKM Ngabeyan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan setiap pelaku usaha.

Selain mendorong pemasaran digital, program “Jejak Ngabeyan” menghasilkan pemetaan fasilitas umum dan UMKM yang lebih terstruktur.

Data tersebut diharapkan dapat mendukung penyusunan leaflet profil desa sekaligus memberikan gambaran mengenai potensi dan fasilitas yang tersedia di Desa Ngabeyan.

Melalui “Jejak Kuliner” dan “Jejak Ngabeyan”, mahasiswa IPB University berupaya memberikan kontribusi terhadap pengembangan UMKM dan pemanfaatan teknologi digital di tingkat desa.

Ilmu dan keterampilan yang ditransfer kepada pelaku usaha diharapkan dapat terus diterapkan secara mandiri setelah kegiatan KKN-Tematik Inovasi berakhir. (*)

Komentar