Jajanan Tradisional Jemblem Dan Cenil, Karya P5 SMKN 2 Ponorogo

BeritaWonogiri.com [PONOROGO] – Suasana meriah memenuhi halaman SMKN 2 Ponorogo, Rabu, 31 Januari 2024), saat digelar bazar jajanan tradisional (BJT) dalam rangka gelar karya mata pelajaran P5. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas peserta didik sambil merayakan HUT SMKN 2 Ponorogo.

BJT menjadi bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), diprakarsai oleh Tim Kurikulum dan guru mata pelajaran P5 dan diikuti seluruh siswa kelas X dan XI. Mereka memamerkan serta menjual beragam produk makanan tradisional seperti mataroda, kemplang, gethuk lindri, grontol, klenyem, tiwul goreng, jemblem, klepon, cenil, wajik, serta minuman tradisional seperti wedang cemoe, es cao, parem, teh jahe, es dawet, es cincau hijau, susu kedelai, dan beras kencur.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, membuka kegiatan ini dan memberikan apresiasi terhadap kontribusi SMKN 2 Ponorogo dalam membentuk generasi berkualitas. Bupati Sancoko menyatakan harapannya, agar semangat berkarya dan berinovasi terus berlanjut, menjadi bagian dari budaya sekolah yang terus berkembang.

Baca juga: Selama PKL, 458 Pelajar SMKN 2 Ponorogo Terjamin BPJS Ketenagakerjaan

“Agar anak muda tidak akan melupakan budaya dan tradisi nenek moyangnya, sejarah bahwa Ponorogo ini penuh dengan kearifan lokal yang serba budaya,” katanya.

Kepala SMKN 2 Ponorogo, Farida Hanim Handayani, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan HUT SMKN 2 Ponorogo dan terintegrasi dengan kurikulum P5.

Jajan tradisional karya P5 SMKN 2 Ponorogo. (BeritaWonogiri.com/Thamrin)

“Kami menyajikan gelar karya dengan tema kearifan lokal dan kebhinekaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Farida menekankan pentingnya memperkenalkan makanan tradisional kepada siswa untuk meningkatkan kreativitas mereka. “Sehingga tidak kalah dengan makanan saat ini di kafe-kafe, seperti pizza, burger, dan lain-lain.”

Salah satu siswa, Suci Wulandari, mengaku membuat sendiri jajanan tradisional seperti kacang goreng. “Kami senang bisa ikut serta dalam melestarikan kearifan lokal.”

Sentimen senada juga diungkapkan Tasya Ifa yang mengaku senang menjual es dawet dan gethuk pisang. Acara ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap kearifan lokal, tetapi juga menjadi wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas mereka dalam sebuah rangkaian acara yang menggembirakan dan mendidik. (Thamrin)

Komentar