Beritawonogiri.com [SEMARANG] – Provinsi Jawa Tengah merayakan Hari Jadi ke-80 dengan catatan prestasi gemilang di berbagai sektor. Mantan Gubernur ke-13, Ali Mufiz, menilai kemajuan ini sebagai fondasi kuat untuk pembangunan masa depan. Peningkatan ekonomi, penurunan kemiskinan, lonjakan investasi, serta perbaikan infrastruktur menjadi sorotan utama, yang telah memicu diskusi viral di media sosial.
Ali Mufiz, yang pernah memimpin Jawa Tengah pada periode 2007-2008, menyampaikan apresiasinya di kediamannya di Semarang pada Kamis (14/8/2025). Ia menyebut perbaikan sarana transportasi sebagai capaian paling mencolok. “Kalau dibandingkan dengan zaman saya, tentu saya bersyukur. Yang paling kelihatan adalah bertambah baiknya sarana transportasi. Ke mana pun kita pergi, rata-rata jalan sudah sangat bagus,” ujarnya.
Pembangunan infrastruktur yang merata telah memperlancar konektivitas antardaerah, mendorong mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Hal ini turut menggenjot pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, yang mencapai 5,28% pada triwulan II-2025, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Selain itu, penurunan kemiskinan menjadi 9,48% pada Maret 2025, turun 0,10% dari September 2024, menunjukkan keberhasilan program konvergensi lintas sektor.
Investasi juga melonjak signifikan, dengan realisasi semester I-2025 mencapai Rp45,58 triliun atau 58,19% dari target tahunan Rp78 triliun.
Capaian ini menyerap ribuan tenaga kerja, terutama di sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki, serta mendukung pengembangan sekolah kemitraan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Di bidang kesehatan dan sosial, Ali Mufiz menyoroti penurunan potensi konflik dan radikalisme, menciptakan iklim kondusif. “Kita sekarang punya modal sosial yang sangat baik. Tinggal bagaimana pemerintah memanfaatkannya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” katanya.
Program seperti intervensi gizi anak sekolah dan renovasi infrastruktur pendidikan turut berkontribusi, dengan target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik pada 2025.
Ali juga memuji efisiensi birokrasi yang mempercepat penyelesaian masalah tanpa pemborosan anggaran. Namun, ia mengingatkan tantangan seperti pengendalian populasi dan ketersediaan lahan. “Pengembangan rumah susun bisa menjadi salah satu solusi agar Jawa Tengah kembali menjadi lumbung pangan nasional,” usulnya.
Secara budaya, karakter masyarakat Jawa Tengah yang menjunjung kesantunan menjadi modal harmoni sosial. Ali menekankan keseimbangan antara kesantunan dan keterbukaan prestasi. “Masyarakat Jawa Tengah ini kelihatannya tenang-tenang saja karena falsafah Jawa mengutamakan alusing budi,” tuturnya.
Kombinasi ini, ditambah kemajuan infrastruktur, diharapkan mendorong kesejahteraan merata bagi 36 juta penduduk Jawa Tengah.






