Beritawonogiri.com [SEMARANG] – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan langkah strategis dalam memperkuat sinergisitas bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Tengah guna meningkatkan volume serta daya saing ekspor produk unggulan daerah. Dalam waktu dekat, ekspor besar-besaran produk hewan, ikan, dan tumbuhan yang telah tersertifikasi akan dilepas menuju berbagai negara utama, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, serta sejumlah negara Asia lainnya.
Kepala Balai Karantina Jawa Tengah, Willy Indra Yunani, menyampaikan bahwa perhatian Gubernur Ahmad Luthfi terhadap ekspor produk bersertifikasi sangat besar. Jadwal pelepasan ekspor bersama gubernur dan kepala badan sendiri diagendakan awal November mendatang di Semarang. Program ekspor ini diyakini menjadi momentum penting mendorong daya saing produk daerah di pasar internasional.

Kepala Balai Karantina Jawa Tengah, Willy Indra Yunani bersama jajaran bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. (Foto: Zulkarnain)
Data periode Januari–September 2025 menunjukkan kinerja ekspor dari tiga sektor tersebut terus mencatat peningkatan. Karantina hewan telah mengeluarkan 448 sertifikasi, karantina ikan sebanyak 2.548 sertifikasi, dan karantina tumbuhan mencapai 15.809 sertifikasi. Jumlah ini mengindikasikan aktivitas ekspor yang terus tumbuh seiring permintaan global.
Komoditas unggulan sektor hewan didominasi ekspor sarang burung walet sebanyak 35.386 kg dengan nilai transaksi Rp1,27 triliun ke 14 negara tujuan, termasuk China, AS, Jepang, dan Australia. Selain itu, bulu bebek, kulit kambing, minyak jelantah, dan tokek konsumsi juga mendulang volume ekspor signifikan. “Kami pastikan seluruh produk lolos sertifikasi untuk memperkuat posisi di pasar global,” ujar Willy.
Sementara untuk komoditas ikan, Jawa Tengah menonjol lewat ekspor cumi-cumi sebanyak 9,5 juta kg senilai Rp427,9 miliar, serta udang, layur, tuna, rajungan, dan rumput laut yang menyasar lebih dari 15 negara tujuan. Jepang, Korea Selatan, Portugal, dan Selandia Baru termasuk negara dengan permintaan tinggi atas komoditas perikanan segar dan olahan dari Jawa Tengah.
Sektor tumbuhan pun tak kalah cemerlang. Ekspor kayu olahan sebesar 11,1 juta m³ bernilai Rp1,36 triliun dikirim ke Asia, Eropa, dan Afrika. Kayu albasia, sengon, veneer, kayu lapis, dan bunga melati segar melengkapi daftar produk andalan yang mampu bersaing secara internasional.
Menariknya, ekspor produk hewan, tumbuhan, dan ikan ke Amerika Serikat tidak banyak terpengaruh oleh dinamika kebijakan global. Menurut Willy, permintaan kayu olahan dan furnitur dari Jateng tetap stabil dan tinggi. “Grafik pengiriman kayu olahan dan mebel ke Amerika masih signifikan, mereka butuh produk berkualitas dari kita,” jelasnya.
Gubernur Ahmad Luthfi pun menyampaikan optimismenya terhadap prospek ekspor Jawa Tengah. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas dan beradaptasi dengan tantangan global. “Sinergi antara Pemprov dengan Balai Karantina harus terus diperkuat untuk mewujudkan ekspor yang berkelanjutan, sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal di kancah dunia,” tuturnya.(*)






