Jawa Tengah Magnet Investasi dan Ekspor, Ahmad Luthfi Optimistis Pasca Kebijakan Trump

Ahmad Luthfi tegaskan Jawa Tengah tetap stabil dan kompetitif, jadi magnet investasi dan ekspor, meski ada ketidakpastian global dan dampak kebijakan perdagangan internasional.

Beritawonogiri.com [SEMARANG] – Jawa Tengah kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu wilayah paling stabil dan atraktif di Indonesia untuk investasi dan ekspor produk unggulan, bahkan di tengah gonjang-ganjing global serta perubahan kebijakan perdagangan era Donald Trump. Gubernur Ahmad Luthfi menekankan, iklim sosial yang aman, nyaman, dan terbebas dari konflik komunal menjadi fondasi utama daya tarik Jawa Tengah bagi investor mancanegara maupun nasional.​

Dalam seminar bertema “Tantangan dan Peluang Ekspor Pascakebijakan Trump” di Semarang, Senin, 20 Oktober 2025, Ahmad Luthfi menggarisbawahi bahwa pemerintah provinsi terus memperkuat percepatan perizinan investasi, baik penanaman modal asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN). Semua proses kini dilakukan secara transparan dan bebas biaya di bawah meja, sehingga kepercayaan investor semakin meningkat.​

Panel pakar seminar membahas potensi program ekonomi hijau dan optimalisasi ekspor berkelanjutan di Jawa Tengah. (Foto: Zulkarnain)

Tenaga kerja Jawa Tengah juga dinilai sangat kompetitif, didukung oleh industri padat karya yang menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan berperan menekan tingkat pengangguran. Ahmad Luthfi menegaskan, komitmen pemerintah dalam mendukung kemudahan berusaha dan meningkatkan produktivitas industri lokal terus dilakukan secara konsisten.​

Meski dunia menghadapi pandemi Covid-19, perang Ukraina–Rusia, dan konflik Timur Tengah yang mengguncang ekonomi global, Jawa Tengah terbukti mampu menjaga stabilitas ekonomi dan sosial berdasar modal sosial yang kuat serta mental siap beradaptasi. “Kini saatnya bangkit lebih cepat,” ucapnya penuh optimisme di hadapan pelaku usaha dan investor.​

Kebijakan perdagangan era Trump justru menjadi momentum positif bagi ekonomi daerah, dengan gelombang investor dan buyer internasional yang berbondong-bondong ke Jawa Tengah. Amerika Serikat tercatat sebagai pasar utama ekspor Jawa Tengah, berkontribusi 47,9% dari total ekspor, diikuti Uni Eropa (11,2%), Jepang (8,1%), ASEAN (6,4%), dan Tiongkok (4,2%). Nilai ekspor Januari–Agustus 2025 mencapai US$7,95 miliar dengan surplus perdagangan US$2,19 miliar, naik 10% dibanding tahun sebelumnya.​

Produk unggulan seperti sarang burung walet, kulit kambing, ikan, udang, rajungan, dan olahan kayu menjadi primadona ekspor ke Amerika dan Uni Eropa. Ahmad Luthfi juga menekankan, ekspor dan investasi menyumbang sekitar 85% penggerak ekonomi Jawa Tengah, sedangkan APBD hanya 15%. Artinya, kekuatan ekonomi daerah benar-benar digerakkan oleh pelaku usaha dan investor.​

Pengembangan kawasan industri KITB Batang, Kawasan Industri Kendal, serta konektivitas antarwilayah seperti Soloraya, Semarang Raya, Pati Raya, dan Banyumas Raya, turut memperkuat pemerataan ekonomi daerah. Tren global menuju ekonomi hijau juga direspons cepat lewat program Rengganis Pintar (Revitalisasi Green Industry untuk Peningkatan Ekspor Jawa Tengah), menarik minat Uni Eropa dan negara mitra lain terhadap industri berkelanjutan di Jateng.​

Ahmad Luthfi mengajak seluruh pelaku usaha memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan ekspor, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. “Jawa Tengah siap bersaing di pentas global,” tutupnya disambut tepuk tangan peserta seminar.(*)

Komentar