Beritawonogiri.com [DEMAK] – Lahan persawahan yang dulunya terendam banjir dan menjadi lahan tidur kini kembali hidup. Berkat program normalisasi sungai yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lebih dari 450 hektare sawah di empat desa di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, kini bisa ditanami padi kembali. Kebahagiaan ini dirasakan langsung oleh para petani, yang beberapa musim tanam sebelumnya kehilangan mata pencaharian.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menyaksikan langsung semangat petani dalam kegiatan “Wiwitan Tandur Pari” di Desa Dukun, Kecamatan Karangtengah. Dalam acara tersebut, seorang petani bernama Rifan menyampaikan rasa terima kasihnya dengan terbata-bata. “Terima kasih sudah dibantu normalisasi (sungai). Tapi kalau sudah dikeruk sungai yang di sini, sampai desa sebelah harus dinormalisasi,” pintanya, berharap program ini diperluas.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pemulihan lahan pertanian ini. Program ini melibatkan banyak pihak, mulai dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun), Dinas Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Bank Indonesia, hingga perusahaan swasta seperti PT Pertamina Patra Niaga, PT Corin Mulia, dan PT Djarum. Sinergi ini menunjukkan komitmen kuat dalam mengatasi masalah banjir yang sudah bertahun-tahun merugikan petani.
Taj Yasin mengungkapkan, saat ia pertama kali datang pada 3 Juli 2025, total 512 hektare lahan masih terendam air. Namun, kini, sebagian besar sudah kering dan siap ditanami kembali. Dengan pulihnya lahan ini, Demak diharapkan dapat mengembalikan posisinya sebagai penyumbang padi terbesar ketiga di Jawa Tengah, yang sempat turun ke peringkat kelima akibat banjir.
Menurut Kepala Distanbun Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, banjir pada awal tahun 2025 menyebabkan kerugian hingga Rp18 miliar per musim tanam di Kecamatan Karangtengah. Total potensi kehilangan produksi padi mencapai 2.867,2 ton dalam satu musim tanam. Dengan perbaikan irigasi, ada harapan untuk bisa menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwisaputra, menambahkan bahwa komoditas beras merupakan salah satu penyumbang inflasi terbesar di Jawa Tengah. Pemulihan produktivitas padi di Demak ini tidak hanya penting untuk ketahanan pangan lokal, tetapi juga untuk menjaga stabilitas harga di tingkat provinsi.
Hingga saat ini, seluas 231,9 hektare lahan sudah tertanami padi di empat desa, sementara sisanya sedang dalam tahap persiapan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat adalah kekuatan yang efektif dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.(*)







Komentar